x

Mer(d)eka Berkarya!

Share

Oleh : Imam Soebagio

Merdeka adalah hak segala bangsa. Merdeka adalah manusiawi. Merdeka adalah hak kita, bahkan  patut diperjuangkan. Merdeka adalah saat melakukan perubahan. Perubahan  perilaku dan semangat sebagai landasan perjalanan kearah yang lebih baik dan mapan.

Pekik merdeka semakin menggema saat kita memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sambil mendoakan syuhada  yang gugur membela Bangsa. Sekaligus memutar balik kisah kejuangan Anak Bangsa yang memanggul senjata. Memerdekakan negeri ini dari penjajahan tanpa pamrih. 

Merdeka sebagai pensiunan adalah hak setiap Abdi Negara. Baik PNS atau ASN, Polri dan TNI. Kemerdekaan yang mereka peroleh setelah sekian lama mengabdi Bangsa. Merdeka sebagai pensiunan adalah dambaan mereka. Pensiunan yang bebas dari rutinitas. Bebas dari tekanan dan bebas dari target. 

Namun pensiunan negeri ini tidak bebas dari tanggung jawab atas  kewajiban dan pengabdian  kepada Bangsa dan Negara.  Seperti bunyi satu kalimat dalam mars PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indonesia), pengabdian pada Negara sampai di akhir usia. Alunan hymne PWRI juga dengan rancak penuh semangat mengingatkan. Pensiunan wajib memperjuangkan tata tentrem kerta raharja. Merupakan “persembahan terindah bagi penerus bangsa”.

Masa pensiun, walau sudah dibebaskan dari tugas-tugas kenegaraan, hakekatnya ia tidak bebas dari tugas dan kewajiban selaku warganegara. Pensiunan Indonesia tetaplah  sebagai insan pejuang bagi Negara dan Bangsa. Ia tidak bisa disejajarkan dengan seorang pensiunan ala Belanda yang namanya dalam bangsa asing disebut “loontrekker”.   Mereka  disanjung dengan istilah “op zijn lauweren rusten”, bebas dari segala kegiatan hidup sehari-hari.

Pameo pensiunan yang menganggap identik dengan kelompok masyarakat yang renta dan menjadi beban orang lain tidaklah benar. Masih banyak pensiunan yang  menjadi sumber daya manusia berkualitas dan teladan. Pensiunan  menjadi produktif karena mempunyai pengalaman yang luas, kearifan dan kematangan emosi yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan nasional.

What next.

Bagi banyak orang, masa merdeka sebagai pensiunan hendaknya tetap berkarya. Ada kekhawatiran yang menghantui mereka yang namanya dimensia alias kepikunan. Maka tak sedikit mereka yang sudah pensiun lebih memilih untuk melakukan sesuatu dan berkarya di usia lanjutnya.  Ia bisa memanfaatkan semua ketrampilannya dan menggali kompetensi sepanjang waktu dalam  lingkungan kerja yang ia inginkan.

Ada banyak cara melanjutkan pengabdian bagi Bangsa dan Negara untuk orang merdeka yang pensiunan. Tempat mengabdi untuk berkarya terbentang luas di depan mata. Tinggal menyesuaikan dengan keahlian dan kemampuan masing-masing.

Bisa berorganisasi sesama pensiunan seperti PWRI, Pepabri, Karang Werda sebagai wadah lansia. Atau membina UMKM (Usaha Mikro Kecil menengah), BUMDES (Badan Usaha Desa). Bahkan dengan bergulirnya dana desa berdasarkan PP 60/2014 masih banyaj desa yang belum mampu membuat perencanaan dan pertanggungjawabannya. Disinilah pensiunan bisa memberikan sumbangsihnya untuk berkarya. 

Bagi yang ingin mandiri, di Jawa Timur dan Bali saat ini banyak pensiunan berkarya dengan terjun ke dunia bertani modern hidroponik.